
" Bagi pemuda Indonesia, ia lebih suka melihat Indonesia tenggelam ke dasar lautan, dari pada mempunyainya sebagai jajahan orang kembali " (Hatta)
Perjalanan team prodi pendidikan sejarah angkatan 2002 Univ.Sanata Dharma Yogyakarta ke pegunungan dieng Wonosobo Jawa Tengah, membawa kami serasa di atas permukaan bumi ang paling tertinggi. Hal ini terasa ketika kami sampai ke kawah candra dimuka yang menyemburka hawa panas bumu dan bau belerang yang menyengat hidung. Perlu kita ketahui di dieng terdapat beberapa situs sejarah berupa candi-candi peninggalan Wangsa Sanjaya dan Syailendra yang pada abad 8 masih berkuasa di Jawa Tengah (Mataram Hindu). Rasa capek yang kuat hilang sejenak ketika melihat indahnya suasana asri dan sejuk pegunungan dieng, tak terasa hari mulai gelap dan kami harus segera turun dan menjauh dari kawah tersebut karena udara yang menyengat mengandung belerang yang dapat merusakkan pernapasan dan tenggorokan. Persahabatan ini tidak akan terceraikan walau kami sudah pisah entah tak tau kemana. Bravo Sejarah....
Beranjak dari pengebonan pangkalan militer Amerika Serikat Pear Harlbort oleh Jepang secara tidak langssung membuktikan Jepang adalah negara yang kuat di bidang militernya. Hal ini berdampak pada penguasaan Jepang terhadap negara-negara Asia Khususnya Indonesia. Alasan Jepang ingin menguasai Indonesia karena banyak memiliki bahan mentah yang dibutuhkan Jepang sebagai negara indutri pada abad ke-19. Salah satu daerah yang diduduki adalah Kalimantan Barat, salah satu sisi wilayah kalimantan merupakan tempat yang strategis dan dekat dengan jalur pelayaran dunia. Ketika tahun 1942 pertengahan Jepang sudah menanamkan pengaruhnya di kalimantan barat, penguasaan baik di bidang politik dimana rakyat Kalbar tidak boleh melanjutkan organisasi yang berbau kolonial dan harus dibubarkan. Di bidang ekonomi, masyarakt di wajibkan menyerahkan hasil pertanian dan harta benda untuk kepentingan perang Asia Raya yang di jadikan slogan Jepang yaitu Nippon cahaya Asia, Nippon Pelindung Asia dan Nippon Pemimpin Asia.
studi tour merupakan program semester di prodi pendidikan sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Kegiatan tersebut di apikasikan dalam sebuah pengalaman langsung ke situs-situs sejarah di Jawa Timur tepatnya Mojokerto. Di mana daerah tersebut banyak sekali peninggalan sejarah dari kerajaan Majapahit, salah satunya adalah candi Brahu, candi tikus, waringin lawang, makam panjang(Troloyo), dan beberapa objek candi lainnya di Jawa Timur. Pengalaman ini merupakan bekal yang sangat baik bagi perkembangan para pendidik (guru) sejarah dalam rangka pembelajaran sejarah di sekolah. Seorang guru sejarah ironis apabila tidak pernah melihat langsung situs-situs bersejarah, secara tidak langsung pengamatan tersebut menjadi landasar objektif bagi seorang guru untuk menjelaskan materi di kelas. Penting bagi saya ketika mengajar sejarah di aplikasikan dengan media berupa gambar atau foto, video, dan alat peraga lainnya yang didapatkan dari pengalaman selama studi tour sejarah.
Hasil penelitian menunjukan bahwa Kyai Haji Mas Mansur dididik di Pesantren Salafiyah An-Najiyah Surabaya, kemudian ia lanjutkan di Pesantren Kademangan Madura, di Mekah dan ke Universitas Al-Azhar di Kairo.
Peran Kyai Haji Mas Mansur sebagai Ketua Muhammadiyah cabang Surabaya: mendirikan Madrasah Mufidah, membentuk organisasi Aisyiyah, mendirikan balai kesehatan, mendirikan Majlis Tarjih, menerapkan sistem pendidikan Barat dan agama Islam di pondok pesantren. Peran Kyai Haji Mas Mansur sebagai Ketua Pengurus Besar Muhammdiyah: membentuk Komisi Masjid, menerbitkan perangko amal, mendirikan bank Islam dan membuat 12 langkah Muhammadiyah.
Sumbangan Kyai Haji Mas Mansur bagi Muhammadiyah cabang Surabaya dalam pendidikan yaitu mengurangi rasio buta huruf, memodernkan pendidikan Islam dengan menerapkan sistem pendidikan Barat dan agama Islam, membentuk organisasi Aisyiyah, Majlis Tarjih dan membangun poliklinik. Sumbangan Kyai Haji Mas Mansur sebagai Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah: mempererat persaudaraan lewat Komisi Masjid, menetapkan 12 langkah sebagai pedoman hidup, mempelopori khotbah Jumat dengan bahasa Indonesia dan shalat hari raya di lapangan, meningkatkan perekonomian umat Islam dengan membangun bank Mua’malahGawai Dayak Sanggau atau Nosu Mino Podi yang dilaksanakan akhir pekan lalu di
Dayak Galik adalah suku Dayak yang berasal dari Kecamatan Beduai. Mereka mendiami Desa Kastro Mego, Tang Raya, Bereng Bekawat, Tawang Muda dan Sungai Ilai.
Upacara adat Gawai adalah kebiasaan masyarakat yang dilaksanakan secara turun temurun. Disana acara itu masih di lestarikan. Adat ini biasanya dilaksanakan setelah masyarakat panen raya yaitu pada bulan April. Mereka bersyukur kepada sang pencipta Tuhan yang mereka sebut Ketompok atau Tampak. Pemimpin upacara ini adalah tukang Pomang. Sebelum memulai upacara masyarakat biasanya menyiapkan kelengkapan adat atau yang disebut remah. Persembahan ini berupa babi, ayam, tuak, beras pulut, padi, tempayan, tumpang alat-alat perladangan gong dan alat-lat lainnya.
Menurut Temenggung Adat Dayak Muara Fransiskus Suring, upacara adat gawai adalah sebuah upacara yang sangat sakral. Biasanya pada upacara ini warga dari lima desa tersebut pulang kekampungnya masing-masing. Mereka berkumpul bersama sanak keluarga, famili dan kerabat. “Sebab di kegiatan inilah masyarakat bisa berkumpul dengan baik,” terang Fransiskus.